Bagaimana Tipe Arsitektur Gedung yang Disukai dan Populer di Indonesia Mencerminkan Jiwa Bangsa
Indonesia adalah negeri yang kaya akan cerita, dan setiap sudut bangunannya punya cara sendiri untuk berbisik tentang sejarah, budaya, dan mimpi masyarakatnya. Aku masih ingat pertama kali menjelajahi dunia arsitektur melalui situs desaingedung.id, sebuah platform yang langsung mencuri hatiku dengan desainnya yang elegan dan artikel-artikelnya yang penuh wawasan. Saat membukanya, aku seperti diajak duduk bersama teman lama yang ramah, siap berbagi cerita tentang keindahan gedung-gedung di Indonesia. Dari ulasan bangunan ikonik hingga tren desain terkini, situs ini terasa hidup, seolah mengajakku menyelami setiap detail arsitektur dengan cara yang sederhana namun mendalam. Pengalamanku di sana jadi titik awal untuk memahami tipe arsitektur apa yang benar-benar disukai dan populer di negeri ini.
Aku pertama kali jatuh cinta pada arsitektur tradisional saat berkunjung ke Yogyakarta. Di sebuah kampung tua, aku duduk di pendopo sebuah rumah joglo, menatap atapnya yang melengkung lembut seperti ombak dan tiang-tiang kayu yang berdiri kokoh layaknya penjaga setia. Udara sejuk masuk dari sela-sela dinding kayu, membawa aroma tanah dan daun yang membuatku merasa damai. Pemilik rumah, seorang kakek tua dengan senyum hangat, bercerita tentang bagaimana joglo dibangun dengan cinta, setiap ukiran halus di sudutnya mencerminkan filosofi Jawa tentang harmoni dengan alam. Rumah joglo bukan sekadar tempat tinggal—ia adalah cerminan jiwa yang tenang dan penuh makna. Di Jawa, terutama di pedesaan, joglo tetap jadi favorit banyak orang, entah sebagai rumah tinggal atau bahkan disulap jadi villa mewah yang tetap mempertahankan pesona tradisionalnya.

Tapi, cerita arsitektur Indonesia gak berhenti di situ. Seiring waktu, aku mulai menyadari betapa pesatnya kota-kota besar berubah, membawa gaya modern yang kini jadi idola baru. Salah satu yang paling sering kulihat adalah gaya minimalist. Aku ingat pernah berkunjung ke sebuah apartemen di Jakarta Pusat, tempat temenku tinggal. Dindingnya putih bersih, furnitur kayunya sederhana tapi elegan, dan ruangannya terasa lapang meski gak terlalu besar. “Aku suka yang simpel,” katanya sambil menuang kopi, “biar pikiran gak penuh sesak.” Aku mengangguk setuju. Di tengah hiruk-pikuk kota yang bikin kepala pening, gaya ini seperti oase—praktis, mudah dirawat, dan tetap terlihat stylish. Gak heran kalau kafe-kafe kekinian atau kantor-kantor startup di kota besar sering memilih gaya ini, membuktikan bahwa kesederhanaan bisa jadi kekuatan tersendiri.
Lalu, ada juga gaya tropical modern yang bikin aku takjub, terutama saat liburan ke Bali. Aku pernah menginap di sebuah villa di Ubud yang punya atap alang-alang dan dinding bambu, dikelilingi sawah hijau yang terbentang luas. Sore itu, aku duduk di terasnya, menikmati angin yang membelai wajah sambil memandang kolam renang yang seolah menyatu dengan pemandangan alam. Rasanya seperti pulang ke desa, tapi dengan kenyamanan modern yang gak bisa kubantah—sejuk, terbuka, dan penuh cahaya. Gaya ini disukai banyak orang, terutama di daerah tropis seperti Bali atau Lombok, karena berhasil memadukan keindahan alam Indonesia dengan kebutuhan hidup masa kini. Aku bisa bayangin betapa arsiteknya duduk lama, mikirin cara bikin ruang yang bikin penghuninya merasa segar sekaligus rileks.
Gak jauh dari situ, aku juga menemukan pesona gaya industrial yang punya daya tarik sendiri. Pertama kali masuk ke sebuah kafe di Bandung, aku langsung terpikat sama dinding bata ekspos dan pipa-pipa besi yang sengaja dibiarkan terlihat. Lampu gantungnya kasar tapi penuh karakter, dan mejanya sedikit goyah, seolah bercerita tentang masa lalu yang masih hidup. Aku pesan kopi hitam, duduk di sudut, dan merasa seperti berada di gudang tua yang disulap jadi tempat nongkrong hipster. Gaya ini disukai karena punya sisi mentah yang jujur—gak takut nunjukin kekasaran material seperti beton atau besi, tapi tetap dipadukan dengan furnitur yang lembut biar gak terasa dingin. Di kota-kota besar, gaya industrial sering jadi pilihan buat kafe, restoran, atau bahkan rumah yang pengen tampil beda, membuktikan bahwa keberanian bisa jadi keindahan.
Gaya Neo-Vernacular
Tapi, kalau boleh jujur, yang paling bikin aku kagum adalah gaya neo-vernacular. Aku ingat kunjunganku ke sebuah resort di Lombok yang dirancang dengan gaya ini. Bangunannya mirip rumah panggung tradisional, atapnya dari sirap, tapi ada infinity pool dan lampu pintar yang bikin suasananya jadi mewah. Aku duduk di terasnya malam itu, mendengarkan suara ombak yang pelan, dan merasa seperti berada di desa yang modern. Gaya ini disukai karena bikin kita merasa terhubung sama budaya lokal, tapi gak ketinggalan zaman. Aku suka membayangkan bagaimana arsiteknya duduk berjam-jam, mencari cara menyatukan masa lalu dan masa kini dengan begitu apik—menciptakan ruang yang bikin kita bangga sama warisan, tapi tetap nyaman buat hidup sehari-hari.

Gak cuma itu, aku juga gak bisa melupain pesona gaya art deco yang masih hidup di beberapa sudut kota. Saat jalan-jalan di kawasan Menteng, Jakarta, aku sering berhenti sejenak buat ngeliatin gedung-gedung tua dengan ornamen geometris yang rumit dan lengkungan yang anggun. Suatu hari, aku mampir ke sebuah kafe yang dulunya rumah art deco, duduk sambil nikmatin teh sore, dan memandangi ukiran halus di dindingnya. Gaya ini punya nostalgia tersendiri, mengingatkan kita pada masa lampau yang glamor dan penuh gaya. Aku suka mikirin gimana gaya yang awalnya dari Eropa ini bisa nyatu sama budaya Indonesia, mungkin lewat sentuhan motif batik atau penggunaan kayu lokal yang halus. Gedung-gedung art deco ini jadi bukti bahwa kita bisa menyerap inspirasi dari luar, tapi tetap bikin jadi bagian dari cerita kita sendiri.
Dari semua perjalanan ini, aku sadar bahwa tipe arsitektur yang disukai dan populer di Indonesia adalah yang bisa menyambungkan tradisi sama modernitas. Orang-orang di sini suka gaya yang bikin mereka merasa dekat sama akar budaya, tapi juga gak mau ketinggalan sama tren global. Aku lihat ini di joglo yang disulap jadi villa mewah, di kafe minimalis dengan sentuhan kayu jati, atau di gedung pencakar langit yang atapnya mirip rumah gadang. Arsitektur di Indonesia gak cuma soal bentuk—tapi soal cerita, soal identitas, soal bagaimana kita nyambungin masa lalu sama masa depan dengan cara yang indah.
Setiap gaya punya cara sendiri buat nyanyi di hati orang. Joglo bikin kita merasa damai dan terhubung sama alam, minimalist bikin kita tenang dan fokus, industrial bikin kita bebas dan kreatif, tropical modern bikin kita segar dan nyaman, sementara art deco bikin kita nostalgia dan elegan. Aku yakin tiap orang punya pilihan sendiri—ada yang suka yang sederhana, ada yang suka yang mewah, tapi yang pasti, arsitektur di Indonesia punya sesuatu buat semua orang. Aku merasa beruntung bisa melihatnya, dari gedung-gedung tua yang penuh sejarah sampai bangunan modern yang penuh inovasi.
Kalau kamu penasaran sama keindahan arsitektur Indonesia atau lagi cari inspirasi buat proyek impianmu, aku ajak kamu buat mulai petualanganmu sendiri. Kunjungi Desain Gedung, dan biarkan dirimu tersesat dalam cerita-cerita bangunan yang bikin hati bergetar. Mulailah sekarang, dan temukan gaya yang paling nyanyi buat jiwamu